Kamis, 28 Juni 2012

Pengalaman, Guru paling “pahit”

Pengalaman, banyak orang mempunyai pengalaman, tetapi tak jarang pula tak mampu melakukan aksi nyata dari pengalaman tersebut, terlebih mengambil pengalaman dari orang lain. tak sedikit pula mempunyai segudang pengalaman, tetapi ternyata pengalaman akan sebuah akhir dari kesuksesan, bukanlah pengalaman pahitnya sebuah perjuangan.
pengalaman pribadi muncul dari setiap aktivitas yang kita lalui. setiap kegiatan yang kita lalui akan memunculkan banyak pengalaman baru bagi diri kita. jika diminta memilih, pastilah setiap manusia akan memilih kejadian yang enak-enak, menggembirakan, menyenangkan, mengasyikkan dan sejenisnya. tetapi kenyataan hidup takkan demikian. banyak hal kepahitan yang harus dilalui manusia (jika tidak mau dikatakan terpaksa). dari keadaan terpaksa inilah kebanyakan manusia lebih mampu bersikap dalam bertindak.
begitulah pengalaman menyakitkan menjadi guru yang “pahit”. bahkan sangat pahit saat dikecap di lidah. seseorang takkan mampu merasakan sakitnya jatuh tersungkur hanya dari cerita seniornya yang telah mengalami jatuh tersungkur, ketika belum benar-benar mengalami sendiri pengalaman “jatuh”. manusia akan belajar bagaimana dia bisa “jatuh”, sehingga akan lebih berhati-hati dan lebih matang dalam melangkah.
ketika kita bersekolah, tidak semua Guru senantiasa senyum, ramah, dan enak diajak ngobrol. tak sedikit diantara mereka bermuka masam, cemberut, tak pernah “melempar” senyum bagi muridnya, atau bahkan sangat “bengis” ketika menjadi Penjaga Ujian. begitulah guru, semua demi kebaikan kita, yang bertindak sebagai seorang murid Madrasah Kehidupan.
begitulah pengalaman, tetapi hal yang tak jarang kita temui, bagi fihak yang memiliki segudang pengalaman, banyak macam metode dalam mentransfer pengalaman tersebut kepada juniornya. seakan mahalnya pengalaman yang telah ia peroleh dengan susah payah tak mudah diberikan kepada sang junior. biar junior meresakan terjatuh terlebih dulu, biar benar-benar mengetahui rasa sakitnya terjatuh, kamudian barulah di berikan “debrief” dari kejadian terjatuhnya tersebut. tak sedikit pula yang melakukan transfer pengalaman dengan memberikan “manisan” yang enak-enak untuk dikecap sehingga seakan-akan sang junior terkesima dan terbuai, tanpa mengalamani sakitnya pengalaman “jatuh”.
pengalaman oh pengalaman……….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar